Pandemi Bikin Ponsel ‘Flagship’ Turun Kelas

jagatBisnis.com – Seri ponsel pintar Pixel milik Google memang tidak sepopuler barisan ponsel Galaxy S milik Samsung ataupun beragam tawaran dari OPPO, Vivo, Xiaomi dan Realme. Namun, Google Pixel tetap menjadi patokan karena bisa dianggap sebagai manifestasi visi Google sang pengembang Android mengenai perangkat yang ideal. Bisa dibilang, Google Pixel adalah jawaban Android terhadap Apple iPhone.

Akhir bulan lalu, Google pun meluncurkan ponsel Pixel flagship terbarunya, Pixel 5. Hal yang diluar kebiasaan adalah Pixel 5 tidak menggunakan cipset flagship alias cipset kelas teratas.

Alih-alih menggunakan cipset Snapdragon 865 dari Qualcomm yang digunakan oleh ponsel andalan produsen lain, Google memilih SoC Snapdragon 765, cipset kelas menengah. Apa alasannya?

Banderol yang lebih rendah tampaknya menjadi pertimbangan. Vice President Product Management Google Brian Rakowski pun menggunakan kalimat “5G speeds at affordable prices” atau “kecepatan 5G pada harga yang terjangkau” saat memperkenalkan Pixel 5 dan Pixel 4a 5G.

Google tampak mengutamakan kapabilitas jaringan 5G ketimbang performa dasar yang dihasilkan oleh cipset CPU dan GPU. Selain itu, sejumlah fitur kapabilitas flagship, seperti kamera yang berkualitas tinggi serta pengisian daya nirkabel (wireless charging) dan reverse charging untuk mengisi daya earphone nirkabel pun tetap tersedia pada Pixel 5.

Efeknya, Pixel 5 diluncurkan dengan harga 699 dollar AS, lebih rendah dibandingkan harga peluncurkan Pixel 4, yakni 799 dollar AS. Atau sesama flagship tahun 2020, seperti Samsung Galaxy S20 5G yang dijual dengan harga 999 dollar AS.

Tren fitur flagship di harga kelas menengah tidak hanya mewujud pada Pixel 5, tetapai juga di vendor lain seperti OPPO dengan Reno4 dan Realme dengan realme 7.

realme-ulpj-500x340-2x

Firma riset pasar IDC menilai, pengenalan ponsel dengan harga yang lebih terjangkau adalah strategi yang lebih tepat di masa pandemi seperti ini.

Secara umum, segmen ponsel kelas menengah (kisaran harga 400-600 dollar AS) meningkat pangsa pasarnya di dunia, dari hanya sekitar 7 persen menjadi 11,6 persen pada kuartal II-2020 secara tahunan.

“Kondisi ekonomi seperti ini telah memengaruhi pola konsumsi masyarakat untuk memilih produk yang lebih terjangkau. Inilah mengapa, portofolio para vendor cenderung ke arah ponsel kelas rendah dan menengah,” kata analis senior IDC, Sangeetika Srivastava, melalui siaran persnya.

Apple pun tahun ini meluncurkan iPhone SE generasi kedua yang memiliki bodi iPhone 8 (2017) tetapi spesifikasi jeroan setara iPhone terbaru, seri 11 maupun 11 Pro.

iPhone SE dirilis dengan harga 399 dollar AS pada April 2020 dan dibawa masuk ke Indonesia oleh salah satu distributor dengan harga Rp 8 juta pada awal Oktober 2020. (ser)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button