Kisah Seorang Wartawan Al Quds, 4 Kali Masuk Penjara Israel

jagatBisnis.com — Bushra Jamal Ath-Thawil adalah salah satu saksi dari banyak tragedi di jalur Gaza dan perjuangan bangsa Palestina melawan zionis Israel. Dia mengalami masa pendudukan Israel yang kejam, blokade di Jalur Gaza yang miskin dan beberapa perang yang mengakibatkan kematian serta melukai puluhan ribu warga Palestina.

“Saya seorang wartawan perempuan Al Quds asal Palestina yang pernah 4 kali ditawan oleh Israel. Saya termotivasi dari kisah kelam keluarga saya sendiri yang berulang kali ditawan penjajah Israel,” akunya saat acara Online Press Gathering yang diadakan Adara Relief International (Adara), Rabu (04/11/2020).

Dia mencerikan, penderitaan yang dialami selama di penjara  Israel menjadi motivasi untuk mempelajari ilmu jurnalistik. Bahkan, di saat mengalami sakit keras sehingga sulit mendapat perawatan yang memadai. Hal itu karena rumitnya aturan militer Israel. Para tawanan lainnya lambat laun mengalami gangguan kejiwaan. Karena mendapat perlakuan yang tidak pantas selama di penjara.

“Saya mempelajari ilmu jurnalistik untuk mengubah kondisi para tawanan dan penderitaan yang mengungkung keluarga. Saya juga ingin menyuarakan penderitaan ini melalui media agar sampai ke seluruh penjuru dunia. Sehingga kebenaran yang telah lama tersembunyi bisa terungkap dan menentang narasi media arus utama dan stereotip populer,” tegasnya.

Menurutnya, sejak lahir sampai usia 6 bulan, ayahnya dideportasi. Bahkan selama 14 tahun, ayahnya ditangkap sebagai tahanan administratif hingga 8 kali. Penangkapan tahanan administratif adalah sebuah kondisi yang dianggap darurat.

“Di mana, negara dapat memberlakukan undang-undang darurat. Sehingga militer Israel memiliki hak menangkap siapa saja tanpa alasan atau dakwaan apapun. Bahkan pengacara tidak bisa memberikan bantuan hukum karena tuduhannya tidak jelas,” ujarnya.

Bushra menjelaskan, setelah dirinya lulus dari Modern University College di kota Ramallah pada 2013, ia meluncurkan organisasi Aneen al-Qaid Network. Organisasi itu adalah sebuah wadah media yang peduli dengan permasalahan tawanan Palestina. Organisasi itu beranggotakan para mantan tawanan, jurnalis, ahli hukum, dan aktivis kemanusiaan.

“Organisasi itu menjalankan visi mereka dalam menyuarakan permasalahan Palestina yang membekas dalam benak dan hati umat. Kami mengabarkan mengenai kondisi para tawanan dan penderitaan mereka di balik jeruji besi melalui media massa di antaranya Al Jazeera, Al-Aqsa TV, dan media online lainnya,” ungkapnya.

Dia menambahkan, menjadi seorang jurnalis di Gaza tidak mudah. Karena setiap hari bisa menjadi sasaran tembakan Israel atau ditangkap oleh pasukan pendudukan Israel. Faktanya, banyak jurnalis yang dibunuh oleh tembakan Israel.

“Makanya saya berharap insan media, khususnya di Indonesia bisa bekerja sama menjadi penyambung informasi tentang realita persoalan di Palestina Semoga semakin banyak media yang mengedukasi dan memberitakan kebenaran karena menulis untuk Palestina berarti menulis untuk keadilan,” tutup Bushra. (eva)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button