Kerajinan Batu dan Kayu Fosil Tulungagung Sukses Dilirik Pasar Global

JagatBisnis.com – Produk batu dan kayu fosil asal Tulungagung, Jawa Timur, kini menjadi kerajinan premium bernilai tinggi. Produk UD Karya Indonesia ini telah memiliki buyer tingkat global dan sukses bersaing di pasar global. Ada pun kerajinan yang dihasilkan berupa meja, wastafel, dan bathtub (bak mandi) yang terbuat dari batu dan kayu fosil.

Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki, hasil produk buatan UD Karya Indonesia ini memang bernilai tinggi alias premium. Jadi wajar saja, produknya dilirik banyak buyer luar negeri. Apalagi dengan kualiatas yang internasional. Bahkan, pada Jumat (22/10/2021), produknya diekspor ke Hamburg, Jerman senilai Rp400 juta.

“Ekspor ini menjadi pembuktian, UKM Indonesia tetap memiliki pasar sendiri di luar negeri. Apalagi, produk custom seperti ini bukan mass produk. Jadi memang sangat otentik. Saya harap Tulungagung bisa jadi sentra produksi kerajinan batu dan kayu fosil,” katanya, seperti dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Sabtu (23/10/2021).

Teten menjelaskan, ekspor itu membuktikan meskipun pandemi membuat logistik terganggu dan biaya pengiriman kontainer mahal. Tapi minat pasar luar negeri tetap tinggi, terutama permintaan produk home decor.

“Untuk itu, dibutuhkan dukungan dari berbagai pihak agar usaha ritel semacam ini bisa dibantu sistem logistiknya. Konsolidasi bisa lebih mudah menembus pasar luar negeri,” ucap Teten.

Sementara itu, Pemilik UD Karya Indonesia Nanang Setiawan menambahkan, buyer produk-produknya datang dari Amerika Serikat, Jerman, Inggris, Kanada, Belanda, dan Arab Saudi. Bahkan sebelum pandemi Covid-19, bathtub buatannya dibeli oleh Raja Arab Saudi seharga USD2juta atau setara Rp28,2 miliar.

“Pada saat itu, saya pun sempat dipanggil ke Arab Saudi untuk menceritakan proses pembuatannya. Sehingga bathtub tersebut meraih Guiness Book of Record sebagai produk termahal. Adapun produk custom buatan kami yang paling banyak diminati adalah wastafel dan coffee table dari kayu fosil,” bebernya.

Dia mengungkapkan, ketika pandemi Covid-19, pihaknya hanya melakukan ekspor 1 kontainer ke AS. Tahun ini, baru mengirim 1 kontainer lagi ke Hamburg, Jerman sebanyak 1 kontainer senilai Rp400 juta.

“Karena kendala pandemi hanya bisa kirim 1 kontainer saja. Saya berharap, ke depan pemerintah bisa menstabilkan harga logistik dan kelangkaan kontainer,” pungkasnya. (eva)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button