Kanker Paru Menjadi Penyebab Tertinggi Kematian di Indonesia

JagatBisnis – Setiap tahun, jutaan manusia meninggal karena penyakit tidak menular, seperti kanker. Kanker paru masih menjadi kanker paling mematikan di dunia dan Indonesia dengan angka kematian mencapai 13,2 persen dari seluruh angka kematian akibat kanker. Data Globocan 2020, menyebutkan pada tahun 2019 ada 34.783 kasus baru kanker paru di Indonesia dan 30.843 diataranya meninggal dunia atau sekitar 84 orang dalam sehari.

Ahli kesehatan masyarakat, Hasbullah Thabrany menjelaskan, kanker paru menjadi penyebab kematian terbanyak bagi 18,5 persen pria dewasa. Merokok menjadi faktor risiko utama yang menyebabkan 20 persen kematian akibat kanker dan 70 persen kematian akibat kanker paru-paru di dunia. Sayangnya, hampir seluruh kasus kanker paru baru terdiagnosis di stadium lanjut.

“Untuk menurunkan angka kesakitan dan angka kematian, perlu ada perhatian khusus terhadap kanker paru. Di antaranya pencegahan, diagnosis dan akses ke obat termutakhir lewat program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN),” katanya dalam dialog dengan para pemangku kepentingan kanker paru Indonesia dengan tema ”Kanker Paling Mematikan di Indonesia: Seberapa Jauh Telah Kita Atasi dan Apa yang Dapat Kita Lakukan?”, secara virtual, Minggu (7/2/2021).

Oleh sebab itu, lanjutnya, para ahli menilai perlunya perhatian lebih terhadap kanker paru sebagai prioritas penanggulangan penyakit tidak menular. Selain itu, pemerintah juga perlu segera mencari solusi pendanaan inovatif untuk mengatasi masalah keterbatasan dana JKN. Sehingga pasien kanker tetap dapat memperoleh pelayanan terapi kanker yang optimal dan mendapat harapan hidup 5 tahun lebih panjang.

Sementara itu, Ketua Perhimpunan Hematologi Onkologi Medik Ilmu Penyakit Dalam Indonesia (PERHOMPEDIN), Tubagus Djumhana, menambahkan, angka tahan hidup kanker paru sangat tergantung pada diagnosis. Mayoritas kasus kanker paru baru diketahui saat stadium lanjut 3 atau 4, dengan angka tahan hidup yang semakin rendah.

“Makanya, diagnosis yang tepat dan cepat sangat berarti guna memastikan pasien mendapatkan penanganan yang juga tepat dan akurat sesuai tipe kanker paru. Diperlukan kerja sama multidisiplin yang baik agar dapat menangani pasien kanker paru secara menyeluruh dari mulai diagnosis, pengobatan hingga pemantauan,” paparnya.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Yayasan Kanker Indonesia (YKI), Aru W. Sudoyo, mengungkapkan, tersedianya akses ke diagnostik yang memadai menjadi salah satu kunci untuk mencapai penanganan yang baik. Saat ini skrining dan diagnostik masih menjadi kendala yang mengakibatkan pasien baru dapat mengetahui kanker ketika sudah di stadium lanjut.

“Sampai sekarang, saat ini belum ada teknologi yang bisa digunakan atau diterapkan untuk melakukan deteksi dini terhadap kanker paru-paru ini. Karena kanker paru-paru ini tidak langsung kena saraf, jadi tidak ada sensitivitas yang bisa disadari oleh penderita. Tahu-tahu sudah kronis, datang ke rumah sakit sudah stadium 3, stadium 4, dan saat itu angka harapan hidup kecil,” tutupnya. (eva)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button