Isolasi Mandiri, Ini Makanan yang Harus Dikonsumsi dan Dihindari

JagatBisnis.com –  Supaya cepat sembuh saat terkena COVID- 19, penderita yang melakukan pengasingan mandiri wajib memerhatikan santapan dan minuman yang bisa disantap. Tidak hanya itu, menghindari keadaan yang bisa melambatkan penyembuhan pula wajib dilakukan.

Ahli vitamin klinik, dokter. Yohan, SpGK, menganjurkan selama menempuh pengasingan mandiri, penderita COVID- 19 wajib rehat yang lumayan. Tidak hanya itu, konsumsi vit dan mineral pula wajib terkabul.

” Buah dan sayurannya pula yang lumayan, setelah itu serat. Jadi silakan mengkonsumsi santapan yang besar serat. Jangan kurang ingat pula ion tetap dikelilingi dengan molekul. Minum air putih jangan kurang ingat, paling tidak 8- 10 hari tetap disantap,” ucapnya.

Tetapi, dokter Yohan menganjurkan, untuk menghindari minuman manis, minuman dalam bungkusan, ataupun yang beraneka warna. Tetapi, mengkonsumsi air putih dingin masih diperbolehkan.

” Untuk es, minum air putih dingin tak masalah. Jadi yang dijauhi merupakan minuman yang sangat manis, misalnya es aduk, es teler, itu yang dijauhi dahulu. Santapan dan minuman yang besar gula, garam, lemak, dan besar minyak. Karena kita memerlukan untuk memaksimalkan kekebalan badan,” jelas ia.

Tidak hanya dari santapan, Yohan pula menekankan untuk menghindari merokok, tidur sampai larut malam dan tekanan pikiran, karena akan mempengaruhi kekebalan.

” Karena banyak yang isoman tak ketahui ingin mengapa justru merokok. Setelah itu tidur sampai larut malam dan pula tekanan pikiran. 2 perihal ini silih terikat dan berhubungan dengan kekebalan dan sel kebal kita,” tuturnya.

Bagi Yohan, merokok, tidur sampai larut malam dan tekanan pikiran, ketiganya bisa membatasi penciptaan sel kebal di dalam badan, alhasil tidak maksimal.

” Setelah itu yang kedua merupakan terdapat kendala dari cell signaling pathway. Jadi badan kita ini silih korespondensi. Misalnya terdapat virus nih, lalu disuratin pabrik sel imunnya, pergi sel imunnya, melanda peradangan,” tutur ia.

” Nah, korespondensi ini esok akan tersendat. Jadi cara pembuatan antibodinya jadi tak maksimal, cara pengobatannya pula jadi lama. Itu karena tidur sampai larut malam, tekanan pikiran, dan pula merokok,” kata dokter. Yohan.(ser)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button