Indonesia Bersiap Hadapi Krisis Energi

JagatBisnis.com – Cuaca yang tak menentu di sejumlah negara Eropa termasuk Inggris mempengaruhi kelangkaan energi yang mengarah kepada krisis. Bahkan dengan kejadian ini, sejumlah negara bisa terancam tak memiliki cadangan listrik sepanjang musim dingin. Walaupun masih terjadi di sebagian negara di Eropa, Indonesia juga harus bersiap menghadapi krisis energi. Karena, bukan tidak mungkin krisis itu terjadi di Indonesia.

“Krisis energi global akan berpengaruh kepada semua negara termasuk Indonesia, karena adanya ketergantungan pada impor,” kata mantan Gubernur Indonesia untuk OPEC, Widhyawan Prawiraatmadja, dalam webinar krisis Energi, Minggu (10/10/2021).

Menurutnya, tingkat cuaca yang tak menentu tersebut membuat harga gas dan batubara menjadi meningkat. Hal ini juga diprediksi dengan diikuti harga minyak yang ikut melambung. Sehingga hal itu juga akan memengaruhi Indonesia, terutama akan berpengaruh pada harga BBM dan LPG yang biaya perolehannya akan meningkat tajam.

“Sementara untuk batubara dan LNG, Indonesia dikenal sebagai eksportir, sehingga sebenarnya diuntungkan dari sisi neraca perdagangan. Bahkan kenaikan harga energi yang melambung bisa mempengaruhi peningkatan harga komoditas lain hingga ke sektor jasa sehingga mampu mengancam kenaikan inflasi melebihi target,” paparnya.

Oleh sebab itu, lanjut dia, perlu diingat, kondisi Indonesia sangat rentan terhadap peningkatan harga energi primer, khususnya minyak bumi plus BBM dan LPG. Sehingga ketergantungan pada impornya tinggi, terutama karena sebagian dari harga produk BBM dan LPG 3 kg masih disubsidi.

“Kondisi ini menjadi saat yang tepat untuk perusahaan energi mulai menjalankan manajemen risiko. Baik bagi perusahaan lokal swasta maupun perusahaan pelat merah. Pada sektor ini ada PT Pertamina yang memainkan komoditas energi di dalam negeri. Selain itu, hal yang sama juga perlu dilakukan PT PLN. Itu karena dalam posisi konsumsi energi seperti penyerapan batubara, langkah-langkahnya ada di PLN,” bebernya.

Ditambahkan, sisi lain yang tak kalah penting adalah terkait energi transisi. Kebijakan transisi yang hanya melihat pada kebutuhan jangka pendek dapat mendorong terjadinya underinvestment  dalam menghadapi pertumbuhan permintaan energi bersih maupun energi fosil yang pertumbuhannya masih meningkat.

“Implementasi energi transisi yang tidak matang dapat menyebabkan indonesia menjadi rentan ketika terjadi gangguan pasokan baik dalam negeri maupun dalam konteks global atau regional,” pungkasnya. (*/esa)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button