Hati-hati! Harga Daging Sapi Bakal Melonjok Lagi

jagatBisnis.com — Diperkirakan harga daging sapi bakal sebulan menjelang puasa dan lebaran mendatang akan kembali melonjak. Hal itu karena stok sapi bakalan saat ini sangat terbatas. Sementara itu, populasi sapi lokal yang tersedia tidak bisa diandalkan untuk memenuhi kebutuhan daging nasional.

“Kenaikan harga daging tersebut dipicu biaya produksi dari sapi yang dipelihara oleh peternak dalam negeri mengalami peningkatan yang signifikan,” kata Ketua Perhimpunan Peternak Sapi dan Kerbau Indonesia (PPSKI) Nanang Subendro, di Jakarta, Kamis (21/01/2021).

Selain itu, lanjutnya, jumlah sapi bakalan yang diimpor dari Australia saat ini mengalami kenaikan harga yang luar biasa. Karena nilai tukar dollar Australia terhadap dollar Amerika. Kenaikan harga sapi bakalan juga dipicu karena turunnya populasi sapi Australia akibat banjir tahun 2018 lalu yang menghanyutkan 600 ribu ekor sampai 1 juta ekor sapi.

“Peternak yang sapinya hanyut, kini sedang melakukan re-stocking,” tegasnya.

Menurutnya, impor daging kerbau yag dilakukan selama ini secara tidak langsung membunuh usaha peternakan sapi terutama usaha penggemukan. Minat peternak untuk melanjutkan usaha ternak sapi menjadi turun bahkan tutup.

“Masuknya daging kerbau membuat usaha sapi lokal menjadi tidak kompetitif lagi. Jika usaha ternak sapi tidak mampu bersaing dengan daging kerbau impor dari India, maka peternak tidak akan melanjutkan usahanya, karena akan rugi/tidak menguntungkan,” imbuh Nanang.

Menanggapi akan melonjaknya harga daging sapi, Direktur Kesehatan Hewan, Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH), Fadjar Sumping Tjatur, menyatakan, kebutuhan daging sapi nasional tahun 2020 kebutuhan daging sapi sebanyak 681.180 ton dengan produksi dalam negeri hanya  404.997 ton. Untuk mencukupi kebutuhan daging tersebut pemerintah melakukan impor sapi bakalan sebanyak 446.010 ekor dan impor daging beku serta impor daging kerbau.

“Untuk tahun 2021 kebutuhan akan daging sapi meningkat menjadi 696.956 ton sementara produksi meningkat dibandingan tahun 2020, menjadi 425.978 ton. Meskipun produk meningkat sedikit, namun tahun ini kekurangan akan daging sapi mencapai 246.756 ton. Untuk menambal kekurangan pemerintah akan melakukan impor sapi bakalan sebanyak 530.000 ekor, impor daging sapi sebanyak 105.000 ton, impor daging kerbau sekitar 80.000 ton,” jelasnya dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Kamis (21/01/2021). (eva)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button