Harga Naik Terus, Bukti Kegagalan Swasembada Daging

JagatBisnis.com – Menjelang Lebaran tahun ini harga daging sapi dipasaran mencapai Rp140 ribu per kilogram (kg). Kenaikan harga daging sapi sudah berlangsung sejak awal April saat memasuki bulan puasa Ramadhan. Harga daging sapi akan terus meningkat. Sejumlah kalangan pun menyoroti kenaikan tersebut sebagai sebuah kegagalan swasembada daging yang terus berulang.

Ketua Komite Pendayagunaan Pertanian (KPP) Teguh Boediyana menjelaskan, kenaikan harga daging sapi menunjukan kegagalan program swasembada daging. Kondisi ini terus berulang setiap tahun. Padahal, sejak 20 tahun lalu anggaran negara digelontorkan hingga puluhan triliun rupiah untuk program swasembada daging sapi. Tapi hasilnya hanya kegagalan yang
mengakibatkan kerugian dan pemborosan negara.

“Kegagalan program swasembada daging sapi yang terus berulang tanpa henti ini karena pemilihan strategi program yang mengesampingkan usaha pembibitan sapi (breeding) sebagai tulang punggung keberlanjutan produksi daging sapi di dalam negeri,” katanya dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Jumat (7/5/2021).

Dia mengungkapkan, akibat kegagalan yang terus berlanjut, pemerintah dianggap tidak bisa menarik minat para pelaku usaha
untuk melakukan pembibitan sapi. Karena
usaha pembibitan sapi sama sekali belum menjanjikan fisibilitasnya.

“Para pelaku usaha tidak ada yang tertarik untuk masuk, karena kalkulasi di atas kertas tidak menguntungkan. Membangun iklim usaha breeding yang lebih menguntungkan dibanding penggemukan,” tegasnya.

Menurut dia, kegagalan program swasembada sapi terjadi karena pemerintab sudah mengesampingkan terciptanya iklim usaha pembibitan anakan sapi yang kondusif. Sehingga breeding terus bertumpu dan dibiarkan dilepas bebas ditengah masyarakat sebagai bagian dari budaya.

“Hal itu menunjukkan tidak ada upaya serius dari pemerintah untuk mencapai swasembada sapi secara berkelanjutan. Sehingga bangsa kita terjebak dalam impor yang sudah menjadi solusi instan pemerintah untuk mengatasi mahalnya harga lokal. Untuk tahun ini, impor dalam bentuk daging sapi dan daging kerbau didatangkan dari Brazil dan India,” tutup Teguh. (eva)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button