Geger, Ivermectin Disebut Obat COVID-19 Palsu

JagatBisnis.com – Ivermectin merupakan obat yang umum digunakan untuk mengobati beberapa jenis infeksi parasit dan telah lama diberikan pada manusia dan hewan. Meski telah terbukti efektif mengobati beberapa penyakit, seperti kutu kepala dan kebutaan sungai atau Onchocerciasis. Dokter hewan juga sering menggunakan obat ini untuk mengobati beberapa infeksi cacing.

Ivermectin, bila diresepkan untuk manusia yang memiliki sistem kekebalan yang lemah atau kurang defensif, dapat membantu mencegah penyakit yang mengancam jiwa. Tapi, karena obat ini terutama ditujukan untuk hewan, penggunaannya bisa berbahaya dan hanya disetujui untuk penggunaan tertentu dan itu tidak termasuk COVID-19 atau infeksi pernapasan serupa.

Dilansir dari Times of India, Minggu, 10 Oktober 2021, hingga saat ini belum ada obat atau terapi pengobatan tunggal yang disetujui untuk mengobati COVID-19. Beberapa ahli dan kelompok penelitian pun telah menyelidiki efektivitas obat ini.

Gagasan pertama tentang Ivermectin, obat ini dapat membantu mengurangi keparahan COVID-19, bahkan mampu mencegah kematian pada pasien virus corona. Bahkan, tim peneliti Australia menetapkan, aplikasi obat ini mampu membunuh virus. Tidak lama kemudian, Ivermectin didorong untuk dilakukan uji klinis di seluruh dunia.

Ketika para ahli masih mempelajari efek obat tersebut, Ivermectin sudah beredar di pasaran, diresepkan oleh beberapa dokter, dipuji oleh para politisi, bahkan menjadi pengobatan substansial meski bukti ilmiah belum mendukung keefektivan obat.

Para ahli menemukan kontradiksi

Saat ini Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), tidak mendukung penggunaan Ivermectin sebagai ‘obat esensial’. Obat ini hanya disarankan untuk digunakan sebagai bagian dari uji klinis. Sementara para pendukung obat ini mengklaim, ada banyak data positif selama uji klinis terbatas yang dilakukan sejak 2020 lalu.

Pakar kesehatan dari AS, Inggris, India dan sebagian Eropa, telah menemukan banyak kekurangan selama penggunaannya.

Baru-baru ini, penelitian tentang Ivermectin juga menemukan masalah. Para ilmuwan telah menemukan kelemahan serius dan telah menyangkal keefektivan Ivermectin. Sesuai laporan, dari 26 uji klinis yang dilakukan, tidak ada satu pun uji coba yang membuktikan kemampuan dan efektivitas obat dalam membatasi penyebaran virus atau mencegah infeksi.

Lebih lanjut, para peneliti juga menegaskan tidak hanya uji klinis saja yang tidak sesuai dengan data, tapi dosis Ivermectin yang digunakan untuk membersihkan virus terlalu tinggi, sehingga berpotensi beracun bagi manusia.

Oleh karena itu, obat ini dinyatakan tidak aman untuk digunakan. Penyimpangan juga ditemukan pada persentase efektivitas obat yang dihitung, kurangnya data pool acak, dan ketidakseragaman dosis obat. Para ilmuwan memperingatkan, penggunaan formulasi pada hewan pun sangat buruk dan bisa berakibat fatal.

Ivermectin gagal bekerja

Para ahli telah berulang kali mengatakan bahwa Ivermectin bukanlah obat yang dimaksudkan untuk penggunaan rutin dan juga bukan obat anti-virus. Karena itu, obat anti parasit ini tidak memiliki dampak langsung dalam menghentikan pertumbuhan virus.

Jika digunakan tanpa resep dokter, Ivermectin juga dapat menyebabkan gejala penyakit bertambah buruk dan rentan terhadap keparahan.

Efek samping Ivermectin

Meski dianggap sebagai obat yang aman jika dikonsumsi dalam dosis rendah (dengan resep dokter), obat tersebut dapat menimbulkan efek samping tertentu, termasuk keracunan. Ada banyak laporan tentang orang yang mengeluh keracunan dan mengalami beberapa gejala, seperti halusinasi, muntah dan mengantuk.

Selain itu, bagi mereka yang menggunakannya secara proaktif selama menjalani perawatan COVID-19, akan menjadi sangat sakit. Efek samping biasanya dilaporkan ketika Ivermectin diberikan dengan dosis yang lebih tinggi, karena pada dasarnya obat ini ditujukan untuk hewan. (pia)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button