Epidemiolog: Pemerintah Harus Batalkan Rencana Beli Molnupiravir

JagatBisnis.com –  Pemerintah diminta mengurungkan rencana negosiasi dengan perusahaan farmasi Merck yang tengah memproduksi pil Molnupiravir. Karena pemerintah berencana membeli Molnupiravir. Namun sebaiknya, pemerintah fokus saja untuk menangani pandemi Covid-19 di Indonesia melalui vaksinasi yang setidaknya sudah terbukti meminimalisir penularan.

“Sejauh ini Molnupiravir belum mengantongi izin penggunaan darurat dari Badan Pengawas Makanan dan Obat Amerika Serikat (FDA). Jadi Indonesia, tidak perlu bernegosiasi ikut negara kaya seperti Australia, Malaysia. Kita fixed dengan cara vaksinasi, WHO juga tidak menyarankan obat itu untuk mengatasi pandemi,” kata epidemiolog Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) Pandu Riono, Kamis (14/10/2021).

Menurut dia, sampai saat ini belum ada obat yang benar-benar berhasil untuk mengobati pasien terinfeksi Covid-19 di dunia. Adapun obat-obatan yang digunakan di Indonesia seperti Remdesivir, Favipiravir, dan lain sebagainya merupakan obat terapi.

“Untuk itu, saya mewanti-wanti pemerintah agar tidak mudah terbujuk iming-iming sejumlah produsen obat yang menawarkan klaim hebat seperti Molnupiravir. Apalagi dengan keterbatasan anggaran pemerintah harusnya fokus pada akselerasi vaksinasi secara tuntas hingga akhir tahun,” ujarnya.

Dia mengakui, obat selalu
menjadi idaman, padahal obat itu sifatnya individual. Jadi jangan tergoda dan sebagainya, karena hebatnya farmasi ini sudah melobi negara-negara yang potensial buyer. Indonesia termasuk salah satunya. Maka, pemerintah jangan sampai lengah dalam mengambil keputusan.

“Konsep kerja pil Molnupiravir diduga membuat kondisi virus error catastrophic. Sebab, Molnupiravir dapat bekerja secara efektif hanya pada fase replikasi, yaitu hari pertama setelah warga terinfeksi Covid-19. Sementara selama ini penentuan kapan virus mulai inkubasi dan menginfeksi warga masih belum diketahui secara jelas, lantaran mayoritas pemeriksaan warga telat dilakukan,” tutupnya. (*/esa)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button