Dr dr Farabi EL Fouz SpA MKes Beberkan Soal BPA dan Kesehatan

JagatBisnis.com –  Meningkatnya penggunaan BPA (Bisphenol A) pada produk yang bersentuhan dengan makanan atau minuman diiringi meningkatnya pula keiingintahuan masyarakat terhadap apa itu BPA dan apa efeknya terhadap Kesehatan. Terlebih masyarakat dapat melihat wadah disekitarnya beberapa mengandung BPA.

Hal ini tentu menimbulkan keresahan pada Sebagian masyarakat yang memang terkadang tidak punya cukup waktu mengeksplorasi apa jawaban yang tepat bagi keamanan mereka. Era keterbukaan informasi tentu membuat masyarakat dapat mengakses langsung terkait apa efek dari BPA ini bahkan langsung dari perpustakaan ilmiah diluar negri secara gratis. Artikel tersebut banyak membahas apa kerugian yang berhubungan dengan kadar BPA terhadap kesehatan.

Berita Terkait

BPA dapat kontak dengan manusia melalui oral, kontak kulit atau terhirup karena adanya beberapa konten BPA pada lingkungan.

Menurut FDA (Food drug Administration, USA) Bisphenol A merupakan komponen kimia yang ada dalam plastik polikarbonat yang digunakan dalam pembuatan wadah minuman tertentu dan banyak pelapis dari kaleng makanan dan minuman. Botol plastik berbahan dasar BPA umumnya bening dan keras. Dalam kaleng, pelapis berbasis BPA membentuk penghalang antara makanan dan permukaan kaleng yang mencegah korosi kaleng dan migrasi logam ke dalam makanan. Penggunaan BPA sudah ditemukan sejak lama kurang lebih sejak tahun 1960 an. Sebagian kecil bahan dari kemasan bisa saja masuk dalam jumlah sedikit bercampur dengan makanan dalam keadaan tertentu.

Pada tahun 2015 menurut Konieczna A, dkk, BPA karena struktur fenoliknya telah terbukti berinteraksi dengan reseptor estrogen dan bertindak sebagai agonis atau antagonis melalui reseptor endokrin. Oleh karena itu, BPA diduga kuat memainkan peran dalam gangguan kesehatan tertentu seperti beberapa gangguan endokrin termasuk pada wanita dan pria , gangguan kesuburan, pubertas dini, kanker payudara dan prostat dan beberapa gangguan metabolisme termasuk sindrom ovarium polikistik (PCOS).Namun menurut Sonavane M dan natalie ditahun 2019 mekanisme molekuler atau cara kerja yang mendasari hasil penyakit ini kurang dipahami karena efek pleiotropik yang diinduksi oleh BPA.

Rochester JR mengatakan ada bukti yang berkembang bahwa bisphenol A (BPA) dimungkinkan mempengaruhi manusia. BPA adalah pengganggu aktifitas endokrin yang telah terbukti berbahaya dalam penelitian hewan laboratorium. Sampai saat ini, masih relatif sedikit studi epidemiologi yang meneliti hubungan antara BPA dan efek kesehatan pada manusia. Namun, akhir-akhir ini jumlah penelitian ini meningkat lebih dari dua kali lipat.

Pencarian literatur yang komprehensif menemukan 91 studi yang menghubungkan BPA dengan kesehatan manusia; 53 diterbitkan dalam setahun terakhir. Rochester JR ditahun 2013 menguraikan kumpulan literatur ini, menunjukkan hubungan antara paparan BPA dengan hasil kesehatan setelah lahir, masa kanak-kanak, dan orang dewasa yang merugikan, termasuk efek reproduksi dan perkembangan, penyakit metabolik, serta efek kesehatan lainnya. Studi-studi ini mencakup paparan saat kehamilan dan setelah kelahiran, dan mencakup beberapa desain studi dan tipe populasi.

Meskipun sulit untuk membuat hubungan sebab akibat dengan penelitian epidemiologi yang ada, literatur pada penelitian manusia yang berkembang menghubungkan paparan BPA dari lingkungan dengan efek buruk pada manusia, bersama dengan penelitian pada banyak spesies termasuk primata, hal ini memberikan dukungan yang semakin kuat bahwa paparan BPA dari lingkungan dimungkinkan berbahaya bagi manusia, terutama dalam hal perilaku dan efek lainnya pada anak-anak.

Akhirnya pada tahun 2012 dan 2013, badan pengawas makanan dan obat-obatan Amerika atau FDA (Food Drug administration, USA) mengabulkan dua petisi yang meminta FDA mengubah peraturan aditif makanannya untuk tidak lagi mengatur penggunaan bahan berbasis BPA tertentu dalam botol bayi, cangkir sippy/gelas isap, dan kemasan susu formula bayi. Pelarangan ini masih terbatas pada hal tersebut diatas, namun bisa saja berkembang seiring meningkatnya penelitian-penelitian pada manusia.

Mengingat saat ini penelitian yang jelas masih terbatas pada hewan laboratorium. Pada wadah yang bersentuhan dengan manusia baik yang ada dilingkungan atau wadah makan beberapa Lembaga mengatakan dimungkinkan masuk dalam tubuh dalam jumlah yang relative kecil namun tidak menimbulkan masalah Kesehatan. Walaupun demikian timbul pertanyaan dari benak masyarakat, bahwa jumlah kecil tersebut dalam berapa lama ? bagaimana jika dalam puluhan tahun? Hal ini tentu perlu banyak penelitian dan diharapkan dapat terjawab secara lugas mengingat saat ini penelitian akan hal tersebut masih berkembang.

Hal ini perlu dipastikan bahwa penggunaan BPA harus terpantau oleh badan resmi dari pemerintah (POM, dsb) dalam jumlah kadar yang aman. Nilai asupan harian yang dapat ditoleransi (tolerable daily intake) untuk BPA yang ditetapkan oleh European Food Safety Authority (EFSA) pada 2006 adalah 0,05 mg/kg berat badan/hari. Namun, umumnya kadar paparan BPA lebih rendah daripada nilai TDI tersebut.
Berdasarkan hal tersebut diatas maka diperlukan masyarakat untuk “melek” BPA dimulai dengan menjawab pertanyaan bagaimanakah cara kita mengetahui bahwa suatu wadah makanan atau minuman terbuat/mengandung BPA? Kita dapat melihat pada umumnya dibagian bawah wadah dimana terdapat Kode resin 7 menunjukkan bahwa wadah tersebut mungkin terbuat dari plastik yang mengandung BPA. Yuk mulai teliti pada bagian wadah makanan serta minuman kita dan pastikan wadah makanan/minuman itu memiliki izin BPOM kita.

Untuk menghindari efek negative BPA ada beberapa cara yang dapat dilakukan seperti; Pastikan ASI exlusif pada bayi kita 6 bulan pertama sehingga terhidar memakai wadah mengandung BPA, apabila harus menggunakan wadah susu maka hindari memakai botol susu yang belum BPA Free, atau dapat menggunakan botol kaca.

Hindari menuangkan susu panas/cairan panas lain pada botol plastik anak kita dan jangan gunakan botol susu yang sudah tergores agar contain plastik tidak mudah larut dalam susu anak kita. Tidak meletakkan bahan makanan panas atau jangan memanaskan dalam wadah BPA. Hindari penggunaan rutin makanan kaleng. Usahakan menggunakan alat makan seperti piring, sendok, garpu dari bahan BPA, tapi gunakan porselen, kaca atau stainless steel.(hab)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button