Diserang Kabut Asap, New Delhi Bersiap Tindak Darurat

JagatBisnis.com –  Dewan pengendalian polusi federal India, memerintahkan negara bagian dan badan-badan lokal untuk bersiap penuh mengatasi kondisi polusi kabut asap yang memburuk di New Delhi. Hal itu terjadi karena penurunan suhu dan kecepatan angin. Sehingga kabut asap tebal yang beracun menyelimuti ibu kota India. Ditambah lagi, adanya lonjakan pembakaran limbah tanaman di sekitar lahan pertanian.

Data dari dewan pengendalian polusi India, kondisi itu mengurangi visibilitas dan Indeks Kualitas Udara (AQI) mencapai 470 pada skala 500. Makanya, tingkat polusi itu akan memengaruhi orang sehat dan berdampak serius bagi yang sakit. Sedangkan, dari surat edaran dewan polusi, Rencana Tindakan Respons Bertingkat, kualitas udara yang parah selama 48 jam.

Berita Terkait

“Sehingga mewajibkan negara bagian dan badan-badan lokal memberlakukan tindakan darurat. Tindakan darurat itu berupa penutupan sekolah, pemberlakukan ganjil-genap pada kendaraan mobil, dan menghentikan semua pembangunan konstruksi,” kata dewan itu, Sabtu (13/11/2021).

Dalam surat edaran itu, menurut dewan, kantor pemerintah dan swasta juga harus mengurangi penggunaan transportasi pribadi hingga 30 persen. Selain itu, menyarankan penduduk setempat membatasi aktivitas atau paparan di luar ruangan. Karena kondisi meteorologi akan sangat tidak menguntungkan untuk penyebaran polutan hingga 18 November 2021. Hal itu, karena angin rendah dan tenang pada malam hari.

“Menanggapi kondisi tersebut, pemerintah setempat telah memerintahkan penutupan tempat pembakaran batu bata, meningkatkan pembersihan mekanis, dan menindak keras pembakaran sampah. Upaya kami mengurangi pembakaran limbah tanaman, sumber utama polusi udara selama musim dingin, dengan menghabiskan miliaran rupee dalam 4 tahun terakhir tidak banyak membantu mencegah penurunan tajam kualitas udara,” ungkapnya.

Kini, New Delhi sering menduduki peringkat ibu kota paling tercemar di dunia dalam menghadapi udara yang sangat buruk di musim dingin. Hal itu disebabkan pembakaran tunggul tanaman, emisi dari transportasi, pembangkit listrik tenaga batu bara di luar kota dan emisi industri lainnya, pembakaran sampah terbuka dan debu.(*/esa)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button