Brand Kutus-Kutus Komitmen Membangun Ekosistem

JagatBisnis.com –  Sejak dipasarkan tahun 2013 minyak balur Kutus Kutus berkembang menjadi fenomena keajaiban sebuah pengobatan dan keyakinan. Diracik dari 69 bahan-bahan herbal, seperti dari akar, batang, buah, bunga, hingga daun, minyak balur ini diyakini ampuh menyembuhkan berbagai macam penyakit. Bagaimana tidak?

Menginjak tahun ke-8, produksi Kutus Kutus sudah mencapai 24 ribu botol per hari, atau 700 ribu botol setiap bulan. Kini, produk tersebut terserap di pasar sebanyak 6-7 juta botol per tahun, dan pemasarannya bukan hanya ke seluruh Indonesia, melainkan juga diedarkan ke Australia, Eropa, dan negara-negara lainnya.

Adalah Bambang Pranoto, penemu Kutus-Kutus yang tidak hanya jago meracik produk-produk herbal, melainkan juga piawai dalam strategi pemasaran, dan ahli dalam aplikasi teknologi. Sehingga sejak awal memasarkan Kutus-Kutus ia senagaja menggabungkan kekuatan antara word of mouth dengan media sosial. Sarjana Teknik Elektro Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta dan Doktor pemasaran dari London School of Economics ini meyakini pemanfaatan media sosial merupakan salah satu teknik pemasaran yang ampuh, terutama bagi merek-merek yang tumbuh di era disrupsi digital.

“Selain tak memerlukan biaya, pemanfaatan media sosial juga bisa memberikan dampak yang besar terhadap produk yang dipasarkan,” ujarnya membuktikan dimulai dari satu orang reseller, sekarang punya 50 ribu reseller se-Indonesia. Hal itu disampaikan Bambang Pranoto yang akrab dipanggil ‘Babe’ dalam acara Indonesia Brand Forum (IBF) yang diselenggarakan pada 2-4 November 2021.

Dalam acara yang dipandu oleh Teguh S. Pambudi, Managing Editor Majalah SWA. Babe menegaskan bahwa brand story juga menjadi kunci. Dia meyakini, tonggak bersejarah Kutus Kutus adalah ketika kisah proses penemuan minyak ini menjadi story telling yang tersebar luas dengan warna-warni kehidupan menarik di media sosial.

“Dari kejadian itu kita belajar bagaimana strategi marketing dan strategi membangun kredibilitas.” ucapnya.

Menurut Babe, prinsip yang tak kalah penting untuk meraih sukses membangun brand adalah membangun ekosistem yang setara. Produsen, penjual, dan pemakai produk harus mendapatkan manfaat dan kesejahteraan secara setara. Sejak awal Kutus-kutus menerapkan prinsip itu, sehingga tidak heran jika loyalis Kutus-Kutus yang disebutnya sebagai Kutusian metambah hingga pelosok pedesaan.

“Kami punya Republik Kutus-Kutus, yang bersaudara erat dan bersama-sama sehat dan sejahtera,” kata Bambang yang tidak pernah memanfaatkan iklan konvensional, tapi sangat percaya bahwa personal branding itu maha penting.(boy)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button