Bisnis Private Wealth Management Sangat Dipengaruhi Kondisi Persaingan di Perbankan

JagatBisnis.com – Pertumbuhan bisnis perbankan retail di Indonesia tidak lepas dari kinerja private wealth management. Karena bisnis private wealth management sangat dipengaruhi dari kondisi persaingan di sektor perbankan. Bahkan, bisnis private wealth management tidak terlepas dari risiko yang menyertainya.

Sehingga perlu mempertimbangkan daya saing bank, manajemen risiko dan customer relationship management sebagai variabel yang mempengaruhi kinerja private wealth management.

Hal tersebut merupakan novelty atau unsur kebaruan (temuan) dari penelitian akademis yang dilakukan Direktur Utama PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) Hery Gunardi dalam disertasi untuk meraih gelar doktor Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Padjadjaran, Bandung. Dalam sidang Program Studi Doktor Ilmu Manajemen yang digelar secara daring pada Kamis (29/7/2021).

Dia mengakui, jika penelitian mengenai private wealth management telah ada sebelumnya. Namun yang ditinjau dari sisi daya saing bank, manajemen risiko, customer relationship management dan mengkaji pengaruhnya terhadap kinerja perbankan retail baru diangkat dalam disertasinya. Karena private wealth management merupakan salah satu segmen individual di perbankan yang memiliki potensi besar terkait dengan pendapatan fee based income.

Dalam penelitian tersebut dipaparkan segmen wealth management, dengan tiering portofolio nasabah di atas Rp500 juta, memiliki proporsi lebih besar dengan pertumbuhan positif dari tahun ke tahun sejak 2013. Walaupun jumlah rekening segmen tersebut tidak sampai 1 persen dari total rekening DPK di bank umum. Tapi nominal simpanan porsinya di atas 50 persen dari total nominal simpanan individu.

“Karena itu, seiring dengan pertumbuhan populasi High Net Worth Individual (HNWI) di Indonesia, aset finansial segmen tersebut juga mengalami pertumbuhan. Pada 2019 populasi HNWI di Indonesia tumbuh 4 persen dari tahun sebelumnya atau mencapai 134.000 orang. Total kekayaannya mencapai USD675 miliar atau sekitar Rp10,7 triliun,” terangnya. (eva)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button