Benarkah Orang dengan Alergi Berakibat Fatal Jika Divaksin COVID-19?

JagatBisnis.com –  Banyak orang yang meragukan apakah seseorang yang memiliki riwayat alergi bisa melakukan vaksinasi COVID- 19 ataupun tidak. Akhirnya mencuat kekhawatiran dari sebagian pihak dan membatalkan hasrat untuk melakukan vaksinasi.

Bahkan terdapat beberapa orang yang mengatakan, orang dengan riwayat alergi tidak bisa melakukan vaksinasi COVID- 19 karena bisa berdampak parah. Benarkah demikian? Ini kenyataan ataupun dongeng?

Berita Terkait

” Dongeng. Orang alergi obat ataupun alergi santapan bukan berarti tidak dapat melakukan vaksinasi. Yang tidak bisa melakukan vaksinasi merupakan pada saat seseorang alergi kepada salah satu materi yang ada pada vaksin itu,” ucap Ahli penyakit dalam, Profesor. Dokter. dokter. Sayat Rengganis, SpPD- KAI, pada Selasa 7 September 2021.

Profesor. Sayat menambahkan, jika orang yang berhubungan alergi kepada obat, esoknya akan diamati terlebih dulu, apakah kandungan obat faktor alergi itu terdapat dalam vaksin ataupun tidak.

” Bila tidak terdapat, hingga kita dapat prediksi dengan proteksi jika terjadi respon alergi. Tetapi bukan berarti ia tidak bisa divaksin,” jelas ia.

Sayat lebih lanjut menjelaskan, respon alergi masing- masing orang akan berbeda- beda. Terdapat yang enteng sampai yang berat. Semacam apa ilustrasinya?

” Terdapat yang anafilaksis merasa ketat napasnya, tensinya turun, macem- macem. Terdapat yang cuma ringan- ringan saja, semacam gatal- gatal, bentol, jika yang berat betul hingga anafilaksis. Ini merupakan respon alergi yang berat yang dapat mengecam nyawa,” jelas ia.

Biarpun demikian, Sayat mengatakan, nilai peristiwa alergi setelah vaksin COVID- 19 jumlahnya tidak banyak. Dan reaksinya amat perseorangan, artinya akan berbeda- beda masing- masing orang.

” Dapat saja orang itu alergi obat banyak, ternyata vaksin ia tak alergi serupa sekali. Ataupun menjempalit, orang tidak alergi obat serupa sekali, tetapi alergi vaksin, dapat saja terjadi, karena bahannya berlainan,” ucapnya.

Ahli penyakit dalam itu menjelaskan alergi ialah sesuatu peristiwa yang tidak dapat diprediksi. Apalagi, jika orang yang berhubungan tidak memiliki riwayat alergi.

” Tetapi jika terdapat riwayat alergi, kita pasti berjaga- jaga, antisipasinya tetap terdapat. Jadi, artinya zat penawarnya, seluruhnya, sudah kita siapkan, SOP- nya itu sudah terdapat. Itu sebabnya setelah vaksin kita wajib menunggu 30 menit untuk melihat apakah terdapat respon ataupun tidak. Andaikan terdapat, respon dapat langsung ditanggulangi,” tutur Profesor. Sayat Rengganis.(pia)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button