BBKP Tanjung Priok Terus Tingkatkan Layanan

JagatBisnis.com – Pandemi Covid 19 yang melanda India akan sangat berdampak bagi perdagangan komoditas pertanian. Kekhawatiran banyak pihak akan adanya kontaminasi virus pada produk pangan perlu diantisipasi secara bijaksana. Balai Besar Karantina Pertanian (BBKP) Tanjung Priok melakukan berbagai inovasi dan berbagai pembaharuan teknologi untuk mendeteksi berbagai produk pertanian.

“Langkah ini kami lakukan untuk memastikan produk pertanian yang berasal dari negara tertentu, seperti India aman untuk dikonsumsi masyarakat Indonesia,“ Kepala BBKP Tanjung Priok saat Ngobras bertema Pengguatan Informasi dan Komunikasi Menuju BBKP Tanjung Priok Sebagai Etalase Karantina Pertanian lndonesia”, di Jakarta, Rabu (5/5/2021).

Oleh sebab itu, lanjut dia, pihaknya akan fokus pada peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM). Untuk menciptakan SDM yang berkompoten, pihaknya akan melakukan berbagai pelatihan. Sehingga menciptakan tim yang solid dan berintegritas. Apalagi, evaluasi dan pelatihan dilakukan secara berkala dapat meningkatkan kinerja dan profesionalitas pegawai.

“SDM yang berkompeten dan profesional menjadi benteng terdepan dalam mencegah masuk dan tersebarnya hama dan penyakit hewan karantina (HPHK) dan organisme pengganggu tumbuhan karantina (OPTK). Dengan proses yang tersertifikasi, kami menguji setiap sampel media pembawa dengan teliti demi melindungi sumber daya alam, petani,” ujarnya.

Dia menjelaskan, selain SDM yang kompeten, dukungan sarana dan prasarana sangat dibutuhkan untuk menjamin hasil uji laboratorium yang tepat, akurat dan dapat dipertanggungjawabkan. Apalagi, laboratorium Karantina Pertanian Tanjung Priok terus berupaya menjaga NKRI dari ancaman HPHK dan OPTK serta memastikan produk pertanian bebas dari HPHK dan OPTK sesuai dengan persyaratan negara tujuan ekspor.

“Hasil pengujian laboratorium sangat penting karena digunakan sebagai dasar ilmiah dalam menentukan kebijakan dan tindakan karantina selanjutnya. Sebagai salah satu inovasi pelayanan kami, keberadaan Laboratorium Keliling (LabLing) diharapkan dapat mempersingkat waktu pemeriksaan tanaman hias mengingat potensi ekspor yang dimiliki tanaman hias Indonesia,” tegas Hasrul.

Menurutnya, untuk mempercepat kinerja pihaknya harus menyempurnakan aturan teknis kekarantinaan dibawah koordinasi Balai Besar Tanjung Priok sebagai garda terdepan karantina Indonesia. Contohnya, baru-baru ini muncul kasus Jahe yang dimusnahkan, karena tidak sesuai prosedur teknis maupun legal.

“Jadi implementasi teknis permentan harus diterapkan sungguh-sungguh. Pemusnahan Jahe, bukan karena terkait milik siapa? Tetapi semata-mata mematuhi aturan, prosedur,” tambahnya.

Meski begitu, Hasrul menambahkan didalam implementasi aturan kekarantinaan perlunya dukungan semua pihak. Masyarakat juga berperan penting dalam mengawal kebijakan karantina.

“Perlu dipahami bersama, kita tidak boleh lengah karena penyebaran penyakit bisa begitu gawat, apalagi melanda wilayah Jakarta. Oleh karena itu semua stakeholders diharapkan tergerak untuk mengambil peran masing-masing, dalam menjaga berbagai potensi yang tidak menguntungkan,” tutupnya. (eva)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button