jagatBisnis.com : TEKNO - Hujan Meteor Bootid Masih Bisa Dilihat di Langit Indonesia

Hujan Meteor Bootid Masih Bisa Dilihat di Langit Indonesia


Ilustrasi hujan meteor yang pernah terjadi dan sempat menampilkan pertunjukan menarik di atas langit. (jagatbisnis/ist)

TEKNO

29 Jun 2020 18:14


jagatBisnis.com - Fenomena hujan meteor Bootid di langit Indonesia dipastikan masih bisa terlihat, meskipun sudah melewati masa puncak pada 27 Juni 2020 lalu.  Sayangnya, intensitas hujan meteor Bootid bakal menurun drastis. Tak perlu khawatir karena hujan meteor Bootids merupakan peristiwa tahunan yang kerap berulang. 

Peneliti astronomi dan astrofisika Pusat Sains Antariksa, Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional (LAPAN) Rhorom Priyatikanto, menjelaskan, meteor Bootid sendiri sudah mulai aktif dari 22 Juni sampai 2 Juli 2020. Selama periode itu, akan ada kemungkinan masyarakat melihat meteor Bootid setiap kali titik pancaran shower di rasi Bootes berada di atas cakrawala. 

“Hujan meteor ini dapat disaksikan pada pukul 01:59 waktu lokal. Jumlah meteor yang terlihat meningkat dan semakin tinggi titik radiasinya di langit,” katanya di Jakarta, Senin (29/06/2020). 

Menurutnya, hujan meteor Bootid berada di dekat konstelasi Bootes. Bootid dapat diamati tanpa alat bantu dalam kondisi langit gelap. Bootid menghasilkan kurang dari 12 meteor per jam. Kalah jauh dibandingkan hujan meteor Perseid yang menghasilkan rata-rata 50 hingga 60 meteor per jam.

“Fenomena meteor Bootid ini bisa disaksikan dengan mata telanjang. Namun hal itu bisa dilakukan, jika kondisi langit tidak dipenuhi cahaya,” terang dia. 

Dijelaskan, hujan meteor Bootids dikenal sebagai hujan meteor yang lambat dan terang. Kecepatan meteor ini sekitar 64 ribu kilometer perjam. Seperti lebih lambat dari hujan meteor tahunan lainnya.

“Rotasi Bumi saat ini membuat pengamat di Indonesia, atau Jakarta khususnya menghadap ke arah optimal menuju ke arah meteor yang masuk.

Ditambahkan, hujan meteor ini terjadi akibat sisa debu komet yang melintas. Ketika komet mendekat ke Matahari, lapisan es komet tersebut menguap dan melepas butiran debu hingga batuan kecil. Debu dan es itu lantas tertinggal di jalur orbit Bumi. 

“Sehingga, ketika revolusi Bumi memasuki wilayah yang dipenuhi dengan sisa batuan dan es ekor komet, terjadilah hujan meteor. Hujan meteor ini terjadi karena debu dan batuan itu terbakar ketika memasuki atmosfer Bumi” ucap dia. 

Perlu diketahui hujan meteor ini sempat menampikan pertujukan menarik pada 1916, 1921, dan 1926. Saat itu, komet tersebut baru saja melintas dekat orbit Bumi. (esa/*)

BERITA TERKAIT