jagatBisnis.com : PENDIDIKAN - Begini Penjelasan Beda PPDB Zonasi 2020 dengan Sebelumnya

Begini Penjelasan Beda PPDB Zonasi 2020 dengan Sebelumnya


Sejumlah orang tua menggelar aksi di depan Balai Kota Jakarta menyuarakan kritik soal PPDB. (jagatbisnis/ist)

PENDIDIKAN

30 Jun 2020 15:40


jagatBisnis.com - Penerapan aturan jalur zonasi pada Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) 2020, tak jauh berbeda dengan tahun sebelumnya. Sesuai Permendikbud, PPBD tahun ini setelah zonasi, lalu peserta diseleksi menggunakan aturan usia.

Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) DKI Jakarta Nahdiana menjelaskan, untuk DKI Jakarta, penerapan zonasi dilakukan dalam tahap pemilihan sekolah. Peserta dapat memilih sekolah sesuai zonasi kelurahan domisili dan kelurahan tetangga.

“Ketika seleksi dilakukan, pemeringkatan tidak dilakukan berdasarkan jarak domisili seperti daerah lain. Hal ini sudah dilakukan DKI sejak 2017. Bedanya, pada 2017 hingga 2019, nilai ujian nasional dijadikan faktor pemeringkat seleksi. Sedangkan pada 2020 karena UN dihapus, kami memutuskan usia sebagai faktor pemeringkat,” katanya melalui konferensi video, di Jakarta, Selasa (30/06/2020). 

Dia mengakui, kuota sekolah negeri di DKI Jakarta tidak bisa menampung semua lulusan sekolah. Sehingga bagaimanapun seleksinya, pasti akan ada peserta yang tak lolos PPDB. Untuk DKI, lulusan SD ke SMP itu 46 persen. SMP ke SMA atau SMK ada 32 persen. 

“Dengan kondisi ini, maka harus dilakukan seleksi dengan kriteria usia. Lalu, dipilih untuk jalur zonasi demi mengakomodasi masyarakat tingkat ekonomi rendah. Sehingga jalur prestasi memang diperuntukkan bagi siswa yang berusia muda,” imbuhnya. 

Pada kesempatan sama, Plt. Dirjen PAUD, Pendidikan Dasar dan Menengah Kemendikbud, Muhammad Hamid menambahkan, aturan usia memang ada di Permendikbud No. 44 Tahun 2019 tentang PPDB. Aturan usia sudah ada sejak 2017 dan dipilih Kemendikbud atas kajian terkait PPDB pada tahun-tahun sebelumnya. 

“Kami menilai aturan usia dapat membantu masyarakat dengan tingkat ekonomi ke bawah. Paling banyak masyarakat kelompok menengah ke bawah tersingkir karena sistem seleksi PPDB dengan UN. Karena yang kami tahu nilai UN anak yang tinggi biasanya berasal dari kelompok ekonomi menengah ke atas," paparnya. 

Dipaparkan, dugaan itu didapati karena siswa berlatar belakang ekonomi menengah ke atas umumnya dapat kursi di sekolah unggulan. Siswa itu juga memiliki fasilitas dan akses pendidikan yang lebih baik.

“Merespons ini, Disdik DKI membuka jalur zonasi bina RW sekolah sebagai jalur tambahan untuk menampung siswa yang tak lolos PPDB. Jalur ini bakal dibuka 4 sampai 6 Juli, namun hanya untuk siswa yang satu RW dengan sekolah dituju dan merupakan lulusan tahun ajaran 2019/2020,” pungkasnya. (esa/*)

BERITA TERKAIT