jagatBisnis.com : NASIONAL - Teater Daring, Upaya Pekerja Seni Bertahan Selama Pandemi

Teater Daring, Upaya Pekerja Seni Bertahan Selama Pandemi


Salah satu pementasan teater sebelum masa pandemi Covid-19. (jagatbisnis/ist)

NASIONAL

09 Jun 2020 18:27


jagatBisnis.com - Badai pandemi Covid-19 belum juga mereda. Demi menekan penyebaran virus tersebut, seluruh aktivitas kesenian termasuk pertunjukan di panggung teater harus dihentikan. Pekerja seni teater pun harus mengencangkan ikat pinggang dan mencari jalan alternatif agar bisa bertahan. Satu di antaranya adalah mengakrabkan diri dengan pentas teater dalam jaringan (daring).

Pendiri Titimangsa Foundation, Happy Salma mengatakan, untuk bisa terus bernapas, para pelaku seni dan teater kini harus memiliki kemampuan dalam memanfaatkan jagat maya. Faktanya, pandemi Covid-19 memunculkan ragam pertunjukan teater daring yang di masa sebelum wabah tak banyak dipikirkan.

“Teater darling adalah sebuah tontonan dengan menayangkan dokumentasi lengkap melalui situs video streaming. Jadi sekarang semua bertahan dengan kreativitas masing-masing, dan mulai beradaptasi dengan situasi,” katanya di Jakarta, Selasa (09/06/2020). 

Dia menjelaskan, sudah ada beberapa judul teater yang kembali diputar untuk umum. Di antaranya, Bunga Penutup Abad, Perempuan-Perempuan Chairil, dan Nyanyian Sunyi Revolusi. Kalaupun nanti buat pertunjukan, pihaknya akan buat dalam ruang lingkup yang terbatas, tetapi tidak ada penonton di kala syutingdan ditampilkan lewat live streaming. 

“Itu bisa jadi salah satu pilihan alternatif dan tetap bisa melibatkan beberapa kru meski tidak banyak. Karena, media digital hanyalah jalan alternatif. Pada hakikatnya pertunjukan teater akan terasa lebih hidup bila ditonton secara langsung. Namun, untuk menanti masa krisis ini berakhir, jalan alternatif harus dicari demi bisa mempertahankan diri,” terangnya. 

Di tempat terpisah, sutradara Teater Koma, Rangga Riantiarno, menegaskan, di masa ini para pekerja kreatif yang penghidupannya hanya bergantung kepada seni pertunjukan praktis memang tidak mengantongi penghasilan sama sekali. Kenyataan getir ini pun harus diterima dengan lapang. 

“Meski dalam hati merasa sangat khawatir, apabila nantinya dunia seni Indonesia akan kehilangan banyak pelaku dan pekerja seni pertunjukan. Kenyataan yang harus diterima adalah kesenian bukanlah bidang yang diprioritaskan, terlebih lagi dalam masa seperti ini. apa pun bentuknya atau sumber lain agar bisa sekadar bertahan hidup,” pungkasnya. (esa/*)

BERITA TERKAIT