Asian Games dan Gelaran Formula E Di Jakarta, Politisi PKS: Secara Makro Ekonomi, Keduanya Menguntungkan!

JagatBisnis.com – Apakah Asian Games tahun 2018 di Jakarta menguntungkan secara finansial? Kalau dibandingkan antara uang masuk dari penjualan tiket dan iklan dengan persiapan acara sebesar Asian Games ke 18, tentu saja, merugikan.

Untuk menyelenggarakan Asian Games, perlu dibuat beberapa arena Olah-Raga lagi, selain merenovasi yang sudah ada. Ada pembangunan Velodrome (arena balap sepeda dalam ruangan), Equestrian Park (arena berkuda standar internasional), asrama atlet untuk tempat menginap para atlet mancanegara se benua Asia, dan juga pembangunan sarana transportasi dll. Selain mempercepat pembangunan MRT, saat itu juga, dibangun LRT yang jalurnya dari Velodrome Rawamangun ke Kelapa Gading. Belakangan, Pembangunan LRT (Light Rail Transit) sepanjang 5,8 km tsb sempat diributkan, karena biayanya Rp 500 M sd Rp 673 M per kilometernya atau Rp 500 – 673 juta per meternya!

Tetapi mengapa Asian Games ke 18 tetap dilangsungkan di Jakarta? Menurut Politisi PKS, M.Taufik Zoelkifli, Jawabannya hampir sama dengan mengapa Olimpiade dilaksanakan di sebuah negara, termasuk yang terakhir di Tokyo, sama seperti juga kegiatan olah-raga lain yang bergiliran yang digelar di beberapa negara, seperti World Cup, Copa America, dll, jawabannya yaitu, ada banyak keuntungan lain yang bukan hanya dari segi finansial saja dari acara-acara tersebut.

“Ada rasa kebanggaan dari bangsa, negara, kota yang menyelenggarakan. Bahkan dari segi makro ekonomi, acara tersebut justru menguntungkan karena pariwisata jadi berkembang, ekonomi masyarakat di wilayah tersebut terbangun, kota / negara tersebut menjadi tujuan untuk MICE (Meeting, Incentive, Conventions, and Exhibition) karena dinilai, kita menjadi daerah yg aman untuk dikunjungi” tutur Anggota Komisi B Bidang Perekonomian DPRD DKI, Sabtu (28/8/21) di Jakarta.

Biarpun rugi, ungkap MTZ, sapaan akrabnya, investasi yang sudah dikeluarkan di Jakarta saat Asian Games ke 18 seperti arena-arena Olah-Raga, bisa dimanfa’atkan dan dikomersilkan setelah acara selesai. Wisma Atlet bisa dijadikan penginapan / hotel. Dan juga Arena lain bisa digunakan lagi untuk kejuaran2 tingkat nasional dan tingkat dunia yg lain. Walaupun memang perlu inisiatif dan kreativitas tinggi untuk menjadikan investasi yang sudah dikeluarkan menjadi sumber2 penghasilan.

Demikianlah sebenarnya scenario dari Formula E di Jakarta bulan Juni 2022 dan juga MotoGP di Mandalika, Lombok, Maret 2022. Penyelenggaraan Formula E di bulan Juni 2022, lanjut MTZ, mungkin akan rugi secara finansial. Menurut hitungan BPK adalah sebesar Rp 106 milliar.
Tapi sesungguhnya jika dilihat secara ekonomi makro, Formula E dan MotoGP akan menghasilkan keuntungan. Bahkan tidak seperti Asian Games, yang hanya sekali dilakukan di Jakarta, Formula E, katanya, akan dilaksanakan setiap tahun dari tahun 2022 sd 2027.

” Di tahun berikutnya (tahun 2023) Formula E sudah akan mendapatkan keuntungan finansial, karena di tahun itu, sudah tidak perlu banyak menyiapkan bahan-bahan lagi, karena sudah ada investasi dari tahun sebelumnya” terang Wakil Ketua Fraksi PKS ini.

Satu lagi, Asian Games adalah kompetisi tingkat Asia multi cabang. Formula E, kompetisi tingkat dunia dan fokus di satu cabang olah-raga yaitu: mobil balap listrik. Gema dari Formula E akan lebih luas sekaligus lebih fokus di satu cabang olah-raga. Dan mobil balap listrik adalah cabor yang sedang berkembang di seluruh dunia. Jika Jakarta, Indonesia ikut andil di awal perkembangannya ini maka jejaknya akan lama diperbincangkan dunia.

Jadi, jika Asian Games bisa kita laksanakan, kenapa Formula E tidak?
“Janganlah kebencianmu pada suatu kaum, menyebabkan kamu tidak berlaku adil.” sebut MTZ. (dar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button