Ancaman GGL dalam Camilanku

JagatBisnis.com – Usai membenarkan penampilan dan seluruh keperluan kerjanya tak terdapat yang kurang, atensi Femmy Zariah langsung berpindah ke layar smartphone- nya. Aplikasi ojek online untuk memesan santapan merupakan yang awal beliau cari.

Satu ice coffee favoritnya juga langsung dipesan. Ini sudah semacam sebuah ritual menurutnya. Bahkan, saat sebelum mengawali profesinya, perihal awal yang dilakukan merupakan menelusuri laman aplikasi catatan dampingi santapan itu.

” Jika tekanan pikiran serupa kerjaan memang suka larinya ngemil,” tutur perempuan yang bertugas sebagai Kepala Bagian Marketing salah satu rumah sakit swasta belum lama ini.

Terlebih, Femmy saat ini memang sedang dalam era menyusui. Snacking alias ngemil jadi sebabnya sebagai booster menyusui. Ia juga sudah tidak dapat membagi berapa kali kemilan yang disantap dalam sehari.

” Pokoknya selama jam kegiatan sembari mikir ataupun ngerjain kewajiban betul ngemil,” tambahnya.

Lain lagi dengan Adeline, yang sudah memiliki jam tentu untuk menyantap kemilan favorit.” Sehari 2 kali di jam- jam darurat seperti jam 9- an ataupun jam 3 petang,” ucapnya.

Adeline pula lumayan bijaksana dalam memilah jenis santapan untuk camilannya. Terlebih, saat ini beliau lebih banyak WFH alhasil opsi camilannya merupakan yang menyehatkan semacam buah- buahan.

Beliau pula senantiasa menghalangi jumlah camilannya. Bila sudah banyak makan kemilan, hingga jatah makan kuncinya akan dikurangi.

Memang sudah sepatutnya kita mulai menghalangi konsumsi santapan yang besar kandungan gula, garam dan lemak. Paling utama di era endemi saat ini.

Departemen Kesehatan( Kemenkes) RI juga sudah memberikan imbauan batasan mengkonsumsi gula, garam dan lemak( GGL) setiap hari. Dalam satu hari, mengkonsumsi gula maksimal merupakan 50 gram ataupun spatula makan, garam maksimal 5 gram ataupun satu spatula teh, dan lemak 67 gram ataupun sekitar 5 spatula makan.

Akibat yang sangat dikhawatirkan dari keunggulan mengkonsumsi ketiga materi itu merupakan ekskalasi berat badan yang dapat mengakibatkan kegemukan. Orang yang kegemukan beresiko besar mengalami berbagai penyakit tidak meluas semacam diabet, darah tinggi sampai penyakit jantung.

Dampak work from home( WFH) selama endemi COVID- 19 pula terus menjadi memperparah kebiasaan tidak segar ini. Riset oleh Obesity Research& Clinical Practice tahun 2020 kepada 173 orang membuktikan kalau 22 persen mengalami ekskalasi berat badan sebesar 2, 5- 5 kilogram.

Perihal ini juga dirasakan oleh Femmy yang berterus terang berat tubuhnya naik sampai 2 kilogram. Bukannya tidak ketahui akan akibat kurang baik ngemil yang tak dikontrol, tetapi kebiasaan kunyah susah dikalahkan olehnya.

Penyakit tidak meluas dan resiko gejala parah COVID- 19

Kegemukan banyak berhubungan dengan penyakit parah semacam diabet, stroke sampai penyakit jantung. Informasi dari Kemenkes mengatakan kalau 80 persen penyakit tidak meluas( PTM) diakibatkan oleh sikap yang kurang segar termasuk pola makan tidak segar.

Tidak lain dengan mengkonsumsi GGL yang wajib terus menjadi diwaspadai di tengah situasi endemi semacam saat ini. Penyebabnya, bila sudah mengalami kegemukan hingga resiko kepada keparahan peradangan COVID- 19 akan terus menjadi besar.

Manager of Nutrifood Research Center Felicia Kartawidjaja Putra, MSc., menguraikan kalau pengidap kegemukan parah yang setelah itu terkena COVID- 19, mungkin untuk masuk rumah sakit dan membutuhkan pemeliharaan intensif bertambah 2 kali bekuk.

Sudah banyak dituturkan pula bila seseorang yang memiliki komorbid ataupun penyakit yang sudah dialami sebelumnya beresiko besar mengalami situasi yang lebih kurang baik saat terkena COVID- 19. Misalnya, seorang pengidap diabet, paling utama yang gula darahnya tidak terkendali, peradangan virus menyebabkan peradangan dalam badannya bertambah.

” Biasanya diabet yang terkena peradangan itu rentan mengalami situasi diabetic ketoacidosis, sesuatu sebutan di mana kadar keton dalam darah bertambah yang menyebabkan situasi sepsis, salah satu komplikasi diabet yang menyebabkan keadaannya sulit ditangani, memerlukan pemeliharaan ekstra,” jelas Felicia dalam seri webinar Nutriclass x AJI sebagian durasi lalu.

Seperti itu penyebabnya, mencermati batas mengkonsumsi gula amat berarti dilakukan. Karena, gula berhubungan akrab dengan kegemukan dan kegemukan ialah faktor resiko diabet.

Tidak hanya gula, mengkonsumsi garam dan lemak yang melampaui imbauan pula memiliki resiko serupa kepada kesehatan. Garam yang disantap dengan cara berlebihan dapat memberati guna ginjal yang bertugas untuk menghasilkan zat itu dari badan.

Akhirnya, garam yang tak dikeluarkan akan berdiam di darah. Perihal ini menyebabkan garam mengikat darah dan tingkatkan volumenya di dalam pembuluh darah. Situasi itu membuat tekanan darah terus menjadi membengkak alhasil jantung wajib bertugas lebih keras untuk memompa darah.

Penyakit beresiko ini memang tak langsung berakibat kala mengkonsumsi GGL berlebih. Tetapi, ialah penumpukan dari kebiasaan itu selama bentang durasi khusus.

Walaupun sedemikian itu, penyakit ini tidak hanya jadi bahaya untuk umur berumur tetapi pula dapat terjadi pada kelompok umur belia. Informasi Studi Kesehatan Dasar( Riskesdas) tahun 2018 membuktikan kalau kejadian pradiabetes sudah banyak terjadi di umur produktif, ialah pada kelompok umur 35 tahun.

Pradiabetes ialah situasi di mana kadar gula darah sudah melampaui batasan wajar tetapi belum lumayan besar untuk diucap diabet. Tetapi berita bagusnya, situasi ini masih dapat dilindungi.

Apa yang wajib dilakukan?

Melindungi pola makan yang segar di tengah endemi COVID- 19 jadi imbauan dari Badan Kesehatan Bumi ataupun World Health Organization. Pastinya, dijajari pula dengan aktivitas raga dan rehat yang lumayan.

Felicia mengatakan, aktivitas raga yang anjurkan merupakan 7. 500 tahap dalam sehari. Untuk berolahraga, World Health Organization menganjurkan bimbingan aerobik keseriusan sedang 150 menit per minggu. Sementara untuk keseriusan besar 74 menit per minggu, dan bimbingan bobot 2 minggu sekali.

” Tidak hanya berolahraga, kita wajib lalu beranjak, jika bersandar lalu, bangun dari bersandar dan jalani peregangan,” tutur Felicia yang pula menyarankan supaya istirahat 7- 9 jam setiap hari.

Di sisi 3 kunci melindungi kesehatan selama endemi di atas, Felicia pula memberikan 3 cara menghalangi konsumsi GGL supaya tak berlebihan.

1. Seleksi gula kecil kalori

Jika suka minum kopi ataupun teh, Felicia menganjurkan mintalah yang payau. Setelah itu, memohon gula dengan cara terpisah. Dengan demikian, banyaknya gula yang digunakan dapat dikontrol sendiri. Jika masih mau minum minuman manis, hendaknya seleksi gula kecil kalori.

2. Ubah kemilan manis dengan buah

Jika mau makan manis tetapi tetap segar, memilih buah sebagai alternatifnya. Buah pula memiliki rasa yang manis. Walaupun mengandung gula, tetapi gula dalam buah masih dalam matriks yang jadi satu dengan serat. Alhasil, gulanya akan lebih bagus dibanding gula bonus yang terdapat dalam kue.

2. Membuat botol minum sendiri

Cara ini dapat menghindari desakan untuk membeli minuman bungkusan yang berpemanis kala merasa dahaga. (ser)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button