Anak Nakal Kadang Lebih Sukses Dibanding Anak yang Rajin, Ini Penjelasannya

JagatBisnis.com – Ini sering menjadi pertanyaan banyak orang. Ketika ia masih SMA, atau mungkin di bangku kuliah, ia sering satu kelas dengan seorang anak yang bukan main nakalnya. Mungkin juga pemalas, gemar mabuk-mabukan, atau sederet kenakalan lainnya. Sedangkan Anda mungkin adalah seorang yang rajin, patuh aturan, memiliki nilai yang tinggi, serta tidak pernah bermasalah di sekolah.

Namun, di masa ini, ketika semua catatan kenakalannya sudah menjadi sejarah, justru berakhir tak seperti yang dibayangkan. Anda mungkin sudah punya pekerjaan dengan gaji yang cukup, tapi teman Anda yang nakal itu jauh lebih sukses. Sukses di sini tentunya, (mau-tidak mau) diukurkan pada kesuksesan ekonomis.

Apakah Anda sering menemukan kondisi seperti itu? Atau, bila kata “sukses” kurang tepat, kita bisa menggantinya dengan kata “beruntung”. Kenapa teman sekolah yang nakal menjadi lebih “beruntung” dari Anda?

Pernyataan tersebut sebenarnya cukup membahayakan. Karena, seorang anak bisa mencoba untuk nakal, dengan alasan mumpung masih muda. Selain itu, khusus untuk masa depan, ia berkata, bukankah ada banyak contoh anak nakal yang sukses?

Untuk menjawab hal ini, ada dua jenis sesat nalar atau kesalahan nalar yang sering ditemukan. Dua kondisi sesat nalar (logical falacy) untuk kasus ini ialah self-selection bias dan survivorship bias.

Self-selection bias

Argumen bahwa anak nakal kerap lebih sukses, biasanya karena kita fokus pada kata “nakal” tanpa peduli latar belakang dari si anak. Bila orang tuanya adalah seorang miliarder dengan jaringan bisnis yang sudah tersebar di mana-mana, maka bisa kita katakan bahwa si anak tersebut sudah “terlanjur kaya” sejak lahir.

Bila teman seangkatannya akan berusaha mencoba membangun bisnis dari 0, maka anak yang dimaksud akan memulai bisnis sudah dari 8 atau malah dari 10. Tidak peduli seberapa nakalnya anak tersebut.

Jadi, si anak ini memang sukses berkarir berkat previlege yang dimilikinya. Suntikan modal dari orang tuanya, jaringan bisnis yang sudah dimiliki orang tuanya, dan sebagainya. Bukan karena ia nakal atau tidak nakal. Itu sama sekali tidak ada kaitannya.

Karena itu, bila ada yang mengaitkan anak nakal dengan kesuksesannya tanpa memperhatikan latar belakang keluarganya, bisa dikatakan mereka mengalami self-selection bias.

Survivorship bias

Kondisi kedua adalah survivorship bias. Bila Anda misalnya mengingat kembali semua anak nakal yang ada di angkatan Anda ketika sekolah, hingga kuliah, berapa persen yang menjadi sukses?

Dalam kondisi tersebut, kita melupakan puluhan atau bahkan ratusan anak nakal yang tidak kunjung mendapatkan kesuksesan dalam hidupnya. Masih hidup pontang-panting, ada yang mungkin turun ke jalan menjadi “anak nakal” yang sebenarnya. Namun, kita tidak melihat itu, karena kita hanya melihat satu atau dua contoh yang sukses saja.

Kesimpulan

Sebenarnya, sukses itu adalah hal yang bisa dicapai oleh semua orang, tanpa terkecuali. Hanya saja, memang perspektif standar sukses tersebut yang tidak bisa disamakan.

Bila seseorang (kita sebut saja A) lahir dari keluarga pegawai negeri misalnya, kemudian punya pekerjaan dengan penghasilan sebesar Rp20 juta per bulan, maka ia akan menjadi orang sukses di mata keluarganya.

Bila ada seorang anak (kita sebut B) lahir dari keluarga yang sangat miskin, mengandalkan sekolah dari bantuan beasiswa untuk orang miskin, lalu akhirnya mampu memiliki penghasilan sekitar Rp10 juta per bulan, maka ia akan menjadi orang yang sukses di mata keluarganya.

Bila ada seorang anak (kita sebut C) yang lahir dari keluarga miliarder, katakanlah orang tuanya punya penghasilan di atas Rp20 juta per hari, maka ketika anak tersebut memiliki penghasilan Rp30 juta yang itu berarti gabungan dari penghasilan A+B. Namun apakah ia terlihat sukses bagi keluarganya?

Sukses atau tidak ialah perspektif saja. Anda bisa mengira diri Anda sukses, atau mengira diri Anda gagal. Sedangkan bagi orang lain, Anda bisa saja keduanya. Seperti ilustrasi di atas, si C akan terlihat lebih sukses di mata A dan B. Namun, si C justru merasa A dan B yang hidupnya baik-baik saja, tidak kekurangan, dan berkecukupan akan jauh lebih “bahagia” dan sukses.

Kembali ke premis awal tulisan ini. Apakah anak nakal dan anak rajin punya kemungkinan sukses yang sama. Pelajaran di sekolah memang berguna bagi masa depan anak. Meski tidak semuanya, misalnya pelajaran fisika mungkin tidak begitu digunakan bagi anak yang menjadi atlet bulu tangkis. Atau, pelajaran olahraga renang mungkin tidak begitu digunakan oleh anak yang menjadi ilmuwan. Bisa jadi, ada anak yang begitu nakal di sekolahnya, karena ia membenci pelajaran tersebut. Ketika di pelajaran yang ia sukai, justru ia tampak begitu serius.

Misalnya, anak tersebut hanya serius belajar pelajaran Sejarah, dan Sosiologi. Namun di pelajaran lainnya, ia justru tampak tak mau belajar. Hingga ia dilabeli anak nakal. Sebenarnya, justru sejarah dan lingkungan sosial itulah passionnya. Mungkin, ia malah bercita-cita menjadi sejarawan, atau malah arkeolog. (pia)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button