Aktivis Palestina Sedunia, Dukung Pembebasan Palestina dari Israel

jagatBisnis.com — pSejumlah aktivitis Palestina sedunia melakukan dialog untuk mendukung kemerdekaan Palestina. Dialog dilakukan bertujuan memperkuat peran strategis Umat Muslim. Dialog yang dikemas dalam konferensi internasional aktivis Palestina ini diselenggarakan secara virtual, pada Sabtu (07/11/2020) dan Minggu (08/11/2020). Acara tersebut dihadiri para tokoh kemanusiaan internasional.

“Kami menngecam keras terhadap normalisasi hubungan yang dilakukan beberapa negara dengan Israel. Selain itu, negara yang sepakat menjalin hubungan diplomatik dengan Israel adalah pengkhianat terhadap Yerusalem, Al-Aqsa dan perjuangan Palestina,” kata Ketua Global Coalition for Al Quds and Palestine, Hamam Saed, dalam konferensi internasional aktivis Palestina, Sabtu malam (07/11/2020).

Menurut dia, negara-negara Arab seharusnya bersatu dalam menolak normalisasi hubungan dengan Israel. Selain itu, harus ada posisi inklusif negara Arab yang menolak normalisasi untuk menerapkan boikot komprehensif terhadap pendudukan dan pendudukan segera diadili atas kejahatannya yang meningkat.

“Palestina berulang kali mendorong negara-negara Arab untuk tidak menormalisasi hubungan dengan Israel. Penolakan akan terus dilakukan hingga tercapai perjanjian damai yang menyetujui berdirinya negara Palestina yang merdeka,” ungkapnya.

Sementara itu, anggota Ketua Parlemen Turki, Hasan Turon menyatakan, normalisasi hubungan dengan Israel bukan hal yang positif. Pemerintah Turki secara kontinyu terus membantu perjuangan bangsa Palestina. Karena permasalahan Palestina bukan hanya milik bangsa Palestina, tapi menjadi red line yang harus diperjuangkan oleh seluruh umat.

“Sejak konflik kemanusiaan bergejolak di Palestina, korban nyawa berjatuhan. Penduduk Palestina menjadi korban atas kekerasan yang dilakukan Israel. Selain meninggal dunia, penduduk yang masih bernyawa pun hidup dengan rasa tak nyaman. Tempat tinggal mereka sewaktu-waktu bisa direbut dengan paksa kapan saja,” ujarnya.

Pada kesempatan yang sama, Abdurrahman Zaidan yang juga menjadi pembicara menambahkan,  adanya aneksasi lahan yang terus dilakukan sampai saat ini. Karena Israel menganggap Tepi Barat merupakan tanah tanpa tuan. Sehingga Israel berhak menempati lokasi tersebut sebagai permukiman Yahudi. Hal ini yang menimbulkan perampasan dan pengusiran penduduk Palestina.

“Israel sudah mencaplok lebih dari 30 persen wilayah di Tepi Barat. Selain itu, penjajah melakukan aksi penghancuran rumah dan sawah saat proses aneksasi. Bahkan, warga Tepi Barat diusir dan tidak diizinkan kembali karena rumah mereka dikuasai penjajah. Israel terus melakukan pembangunan pemukiman ilegal Yahudi di Tepi Barat. Selain itu, mengubah Makam Nabi Zulkifli menjadi tempat peribadatan Yahudi,” bebernya.

Zaidan menerangkan, banyak penduduk Palestina yang menjadi tawanan bangsa Israel. Di penjara, mereka diperlakukan buruk. Bahkan, ada tawanan yang sejak ditahan hingga kini tak bisa dijenguk oleh keluarganya dan ada yang hilang begitu saja. Kebanyakan dari mereka ialah kaum muda yang melakukan perlawanan membela tanah kelahiran, Palestina.

“Permasalahan yang timbul di Palestina, khususnya Tepi Barat dan Gaza merupakan sebagian kecil dari buruknya dampak konflik kemanusiaan ini. Belum lagi penguasaan Yerusalem, tempat Al-Aqsa, kiblat pertama umat Islam. Untuk itu, kami mengajak seluruh umat manusia menjadikan masalah yang mendera Palestina menjadi masalah bersama. Solusi, dukungan serta pembelaan dalam wujud nyata sangat dinanti demi membebaskan Palestina dari penjajahan Israel,” tutup Zaidan. (eva)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button