Mendes PDTT Bersama KPK Luncurkan 10 Desa Antikorupsi 2022

JagatBisnis.com –  Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes) PDTT bersama Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) meluncuran 10 desa percontohan antikorupsi di Indonesia 2022. Peluncuran desa antikorupsi ini digagas KPK di Desa Banyubiru, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Selasa (29/11/2022).

Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi PDTT Abdul Halim Iskandar mengungkapkan, desa antikorupsi merupakan wujud nyata pelibatan masyarakat dalam rangka pencegahan tindak pidana korupsi khususnya di desa. Sepuluh desa percontohan ini akan jadi model yang menginspirasi desa-desa diseluruh lndonesia dalam penyelenggaraan tatakelola pemerintahan desa yang baik dan bersih.

“Kolaborasi ini sangat penting. Karena tidak mungkin, kita menangani sendiri 74.961 desa seluruh Indonesia dengan berbagai permasalahan dan berbagai variasi budaya yang dimiliki. Permasalahan ini akan lebih cepat lagi atau lebih bagus lagi ketika KPK juga ikut mendampingi berbagai program pembangunan di desa dengan programnya yang luar biasa Desa tanpa korupsi,” katanya.

Baca Juga :   BPKP: Pengelolaan Keuangan Desa Masih Berantakan

Menurut dia, keterkaitan pengawasan dalam pembangunan desa dengan SDGs desa yang terdapat 18 arah pembangunan desa. Mulai dari menuju terwujudnya desa tanpa kemiskinan, desa tanpa kelaparan, pendidikan desa berkualitas, hingga yang ke-18 yaitu kelembagaan desa dinamis dan budaya desa adaptif.

Baca Juga :   BUMDes Harus Diperbesar Perannya untuk Kurangi Kemiskinan Ekstrem

“Yang terakhir ini bermakna pembangunan di desa harus senantiasa dirancang, dilaksanakan, dimonitor dan dievaluasi dengan senantiasa bertumpu pada akar budaya setempat,” ucapnya.

Baca Juga :   BPKP: Pengelolaan Keuangan Desa Masih Berantakan

Kemudian praktiknya, tambah dia, pengawasan dan monitoring tersebut harus berdasar fakta lapangan yang juga termaktub dalam pendataan berbasis 18 tujuan SDGs Desa. Lalu, bagaimana l memotret kondisi kemiskinan di desa, memotret kondisi kelaparan di desa. Sehingga para kepala desa semakin paham, setelah dilakukan,” imbuhnya. (*/esa)