12 Anak di Bandung Alami Gagal Ginjal Misterius

Ilustrasi pasien Foto: CNN Indonesia

JagatBisnis.com Penyakit gagal ginjal akut progresif yang menyimpang pada anak usia dini pula sudah ditemui di Jabar. Di Rumah sakit Hasan Sadikin( RSHS) Bandung misalnya, semenjak awal bulan Agustus, ada 12 anak yang ditangani. Dari belasan anak yang ditangani, tutur Dany, ada terdapatnya anak yang meninggal dunia. Tetapi beliau tidak merincinya.

” Tentu ada dari 12 itu yang meninggal. Meninggal itu ada, cuma kita sampaikan ke pimpinan kita di nasional,” cakap ia.

” Sampai hari ini ada total 12 orang dan sekarang dalam perawatan 3 orang. Ada di ICU 1, tapi yang 1 orang sudah membaik dan Insyaallah bisa pulang,” tutur Kepala Divisi Nefrologi KSM IKA di RSHS Bandung, Dany Hilmanto pada reporter dalam konferensi pers pada Rabu( 19/ 10).

Baca Juga :   Inflasi, Biaya Membesarkan Anak di AS Lampaui Rp4,5 Miliar

Dany membenarkan alur penanganan yang dicoba kepada anak- anak itu cocok dengan anjuran dari Ikatan Dokter Anak Indonesia( IDAI). Alur penanganan yang diartikan diawali dari sarana kesehatan primer, pra rujukan hingga rujukan. Ia pula mengimbau apabila terdapat anak yang hadapi batu berdahak sampai berak air sepanjang lebih dari 7 hari supaya berobat ke dokter.

Baca Juga :   Kasus Gagal Ginjal Akut Meledak

” Segera berobat karena dokter, nakes sudah diberi petunjuk untuk melakukan pemeriksaan,” cakap ia.

Sedangkan itu, Staf Divisi Nefrologi KSM IKA, RSHS Bandung, Ahmedz Widiasta meningkatkan, penyakit gagal ginjal akut progresif itu didominasi anak- anak. Bagi ia, terdapat beberapa pertanda yang dirasakan oleh anak- anak itu saat sebelum ditentukan terserang gagal ginjal akut progresif semacam meriang sampai berak air. Ahmedz menambahkan, penemuan permasalahan gagal ginjal akut progresif tidak cuma ditemui di Kota Bandung tetapi pula kabupaten serta kota yang lain di Jabar semacam Kabupaten Bandung.

Baca Juga :   Stop Kebiasaan Mencium Bayi Orang Lain

” Sebarannya di kota, Kabupaten Bandung, luar Bandung pun ada. Koordinasi dengan Dinkes Jabar. Kebanyakan balita,” tegas ia. (tia)