2 Juta Data COVID-19 yang Belum Masuk Bisa Turunkan Positivity Rate

JagatBisnis.com –  Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves)  yang ialah Delegasi Pimpinan Komisi Penindakan COVID- 19, Luhut Binsar Pandjaitan, mengatakan penguasa memiliki kewajiban untuk menuntaskan perkara informasi permasalahan COVID- 19 antara pusat dan wilayah yang belum seluruhnya berintegrasi.

Dalam pertemuan dengan Wamenkes, ahli kesehatan dan epidemiolog yang berjalan dengan cara virtual belum lama ini, Menko Luhut luang menyampaikan kalau masih terdapat hampir 2 juta informasi ataupun mungkin lebih informasi yang belum di- entry.

Ahli Ucapan Menko Marves Jodi Mahardi menjelaskan 2 juta informasi itu bukan informasi permasalahan positif yang ditutupi, tetapi malah kasus- kasus minus yang belum terlaporkan. Perihal ini diakibatkan karena selama ini banyak makmal yang mengarah lebih dulu melaporkan permasalahan positif supaya segera menemukan penindakan, alhasil informasi permasalahan minus tertunda untuk dikabarkan.

“ Sebenarnya bukan 2 juta permasalahan positif yang belum masuk. Tetapi, terdapat banyak hasil uji minus yang tertunda untuk dikabarkan oleh makmal. Karena jumlah uji yang besar& daya entry terbatas, makmal mengarah lebih dulu melaporkan hasil positif supaya dapat segera ditindaklanjuti,” tutur Jodi melalui pancaran persnya, Sabtu, 7 Februari 2021.

Bagi Jodi, sebagian pihak mungkin salah membekuk arti dari apa yang disampaikan Menko Luhut dalam pertemuan virtual dengan epidemiolog. Yang diartikan Menko Luhut akan mempengaruhi pada positivity rate merupakan 2 juta informasi itu malah akan membuat nilai positivity rate menyusut, bukan bertambah.

“ Jadi kala informasi itu esok sudah berintegrasi dan dimasukkan, nilai positivity rate pula akan turun karena memang banyak informasi permasalahan minus yang tertunda untuk dikabarkan sebelumnya. Jadi artinya bukan terdapat permasalahan positif yang ditutupi dan yang dicemaskan terjadi lonjakan rasa- rasanya tidak akan terjadi,” ucap Jodi.

Integrasi informasi masih jadi masalah dalam penindakan Covid- 19. Sejak dini Menko Luhut fokus pada integrasi sistem manajemen yang bagus, alhasil informasi yang disampaikan dapat aktual dan jelas.

Dengan momentum endemi COVID- 19 ini, Menko Luhut pula lalu mendesak konkretisasi big informasi kesehatan yang menampung dan menggabungkan berbagai pangkal informasi kesehatan, semacam rekam kedokteran elektronik, BPJS Kesehatan, vaksin, dan lain serupanya.

“ Memang ini jadi profesi rumah bersama. Tetapi Menko Luhut melihat endemi ini sebagai momentum yang tepat untuk penguasa untuk membenarkan sistem database kita, bukan cuma di bidang kesehatan, tetapi yang lain pula. Biar ke depan kita dapat memiliki sistem manajemen informasi yang bagus,” tutur Jodi. (ser)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button